Showing posts with label lagi ts. Show all posts
Showing posts with label lagi ts. Show all posts

Thursday, April 5, 2012

A Little Motivation

Terkadang sebuah gambar berarti lebih dari seribu kata. Dan gue akan mencoba mengangkat hal itu kali ini. Semoga para pembaca sekalian mengerti apa yang menjadi maksud dari gambar berikut.

Cekidot guys!

Thursday, March 29, 2012

(Selamat) Wisuda!



"Akhirnya aku wisuda!!!"

Begitulah kira-kira benak sebagian mahasiswa Ekonomi UNTAN, yang hari ini telah berhasil menyelesaikan studinya dan mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi alias S.E., terlebih bagi mereka yang sangat ambisius dalam hal mendapatkan gelar sarjana ini. Hasilnya, mereka lulus dengan hasil (IPK) yang memuaskan, bahkan mendapat predikat "lulusan terpuji".

Apalagi pada kelulusan tahun ini, banyak sekali IPK bernominal bagus yang muncul ke permukaan. Yang paling tinggi (tentu saja) adalah 4,00.

Wow, bisa dibayangkan orangnya pasti pinter banget ya. Nilainya selalu A, gak pernah ada B, C, D, apalagi E. Pokoknya selain A jauh-jauh deh!

Kita tentu terheran-heran bagaimana yang bersangkutan bisa memperoleh IPK 4,00 dengan mudahnya. Pasti di pikiran kita muncul pertanyaan-pertanyaan seperti "Cara belajarnya gimana sih?", "Dia makan apa sih biar jadi pinter gitu?", "Gimana caranya biar aku juga bisa jadi kayak gitu juga ya...", "Kayaknya dia bisa jadi joki nih, minta bantu aja sama dia kali ya...", dan lain-lain.

Masih tercengang karena ada mahasiswa yang CUM LAUDE?

Itu bukan hal yang mustahil. Kemungkinan untuk CUM LAUDE pasti tetap ada, karena di setiap tahun pasti ada mahasiswa yang cemerlang prestasinya, ataupun juga yang sangat ambisius untuk meraih titel CUM LAUDE, dan hal itu bisa terlihat bahkan sejak semester-semester awal. Tidak hanya itu, perilaku seseorang juga dapat menentukan apakah dia bakalan CUM LAUDE atau tidak.

Contoh, mahasiswa, atau secara faktanya adalah mahasiswi, yang CUM LAUDE di kampus gue, adalah mahasiswi paling rajin masuk kelas, tugas-tugas dari dosen selalu terselesaikan dengan baik, selalu memperhatikan dan mendengarkan saat dosen mengajar di kelas, spontan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dosen, selalu mengulang bahan kuliah saat di rumah, membiasakan dirinya membaca, aktif juga dalam berorganisasi, dan selalu dekat dengan dosen.

Mau tau seperti apa mahasiswinya? Ini dia :
Maaf, bagi yang penasaran dengan mahasiswi ini, nama mahasiswi yang bersangkutan tidak ikut difoto dengan alasan privasi.

Seperti inilah "Mahasiswa Idaman" yang selalu diimpi-impikan oleh dosen-dosen. Tanpa perlu waktu lama, dia sudah meninggalkan kesan baik bagi setiap dosen yang dia temui. Mungkin ucapan "tiada kesan tanpa kehadiranmu" layak dialamatkan pada mahasiswa-mahasiswa seperti ini.

Saat bergaul dengan sesama mahasiswa dia juga bersikap ramah, dan mau membantu jika ada teman-temannya yang kesulitan dalam memahami kuliah. Begitu sempurnanya performa dia di kampus bahkan membuat mahasiswa-mahasiswa lain minder bukan main. Bayangin aja, kalau misalnya satu kelas modusnya B, tiba-tiba ada info kalau cuma satu orang yang dapat A, pasti semua udah bisa nebak "Yang dapat A pasti dia, gak mungkin yang lain.", dan memang itulah yang terjadi.

Inilah efek samping dari persaingan yang ada di kampus. Di satu sisi mengakibatkan persaingan yang baik, yang membuat mahasiswa lain termotivasi untuk berusaha lebih baik. Namun di satu sisi, persaingan ini juga berakibat munculnya gap yang sangat jelas terlihat. Seperti adanya geng-geng mahasiswa yang selalu berkumpul dengan teman sekelompoknya saja dan tidak berusaha membaur dengan mahasiswa yang lain. Mereka sering beranggapan bahwa pasti akan sangat sulit untuk berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiswa yang lain, yang memiliki IPK yang bagus ataupun dengan geng-geng lainnya. Dan gap ini akan sangat susah dihilangkan, yang akan berlanjut hingga setelah kuliah.

Ada lagi fenomena yang mengherankan dalam kampus. Setiap kampus tentu memiliki pengumuman siapa-siapa saja yang wisuda periode ini. Namun, yang begitu terlihat jelas dalam pengumuman itu adalah :

1. Lulusan Tercepat
2. Lulusan Termuda
3. Lulusan dengan IPK Tertinggi

Semuanya soal siapa yang cepat, siapa yang muda, dan siapa yang punya IPK paling tinggi. Perguruan tinggi, tempat lanjutan bagi mahasiswa untuk menimba ilmu telah jauh berubah menjadi tempat untuk mencari gengsi. Sekarang, ukuran sukses bagi mahasiswa bukanlah soal mencari ilmu setinggi-tingginya, tapi soal mendapatkan IPK yang setinggi-tingginya, dengan berbagai cara. Dari yang halal, sampai yang curang. Dan juga satu lagi yang gue pertanyakan, kenapa enggak ada yang menghargai skripsi terbaik? Apa benar ini memang menjadi bukti kalau penelitian yang menggunakan ilmu-ilmu yang kita dapatkan selama kuliah 3-4 tahun gak ada gunanya?

Gue sendiri mencoba untuk tidak terpengaruh dengan masalah IPK itu. Gue sadar gue bukanlah mahasiswa yang cemerlang prestasinya. IPK gue seringkali jatuh. Gue juga sering enggak paham dengan materi kuliah. Gue coba menyibukkan diri gue dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mengisi blog ini. Namun tetap saja ada banyak hal yang membuat gue enggak bisa lepas dari masalah IPK ini begitu saja. Seperti banyaknya tuntutan yang dibebankan pada gue, terlebih dari orang tua, dan juga rasa jenuh yang muncul saat datang ke kampus.

Saat ini gue sedang kembali berusaha untuk tetap tidak terpengaruh atas kelulusan hari ini. Gue mencoba untuk menyibukkan diri gue lagi, bukan hanya dengan cara menulis dan mengisi blog ini, tapi juga dengan mencoba menulis skripsi gue. Gue telah memiliki topik skripsi yang akan gue perjuangkan. Gue akan berpandangan realistis soal target, yang berarti gue lulus pada tahun depan, 2013. Terlebih banyak yang mendukung gue, sekarang gue enggak punya alasan untuk enggak serius dalam menulis skripsi. Ini sudah saatnya gue untuk lanjut, jangan terlalu banyak bermain-main, dan harus fokus. Semoga dengan begini, gue mampu meraih target gue yang gue canangkan mulai saat ini.

Oh ya, tak lupa gue mengucapkan, Selamat atas Wisudanya teman-teman mahasiswa, dimanapun kamu saat ini berada. Semoga ilmu yang teman-teman dapatkan tidak sia-sia dan dapat dipraktekkan di masyarakat dengan baik. Amin.

Wednesday, March 14, 2012

"Masih Mau Cuek dengan Kuliahmu?"


"Masih Mau Cuek dengan Kuliahmu?" adalah sebuah buku yang dihadiahkan mantan pacar gue pada bulan November kemarin. Buku ini berisi motivasi-motivasi bagi mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir yang bingung dengan masa depannya, termasuk dalam dunia kerja. Secara pribadi gue menilai buku ini sangat bagus dan to the point. Enggak heran buku ini selalu ada di tas gue, dan sangat jarang gue keluarin. Bukan hanya karena isi bukunya, tapi ada something special yang gue jaga di buku ini.

So? Apa hubungan antara judul postingan kali ini, dengan buku tersebut, dan isi dari postingan kali ini?

Hari ini, saat gue sedang melihat teman-teman gue lagi sidang outline, gue ditegur salah satu dosen (yang banyak mahasiswa bilang) killer yang akan menguji salah satu teman gue, karena gue terlihat paling santai di antara yang lainnya. Beliau berkata dengan lantang di depan teman-teman gue, isinya yang tentu saja menyuruh gue banyak belajar dan mempercepat penyelesaian studi, dan tentu saja hal-hal lainnya yang membuat gue kembali down.

Gue akui, gue orangnya mudah sekali down, apalagi hanya dalam beberapa sentilan mengenai hal-hal yang gue anggap sangat pribadi buat gue, yang salah satunya adalah studi gue. Bukannya gue enggak mau mikirin studi gue, gue hanya mencoba untuk realistis. Gue masih memiliki banyak mata kuliah yang harus diambil dan yang harus diulang untuk memperbaiki nilai gue, meski enggak sampai sepuluh buah, dan karena itu gue mencoba untuk lebih fokus dengan kuliah gue daripada memikirkan isi skripsi yang akan gue presentasikan di ruang sidang nanti. Dan juga satu lagi, gue belum siap.

Ya, setelah beberapa kali melihat teman-teman gue seminar, yang gue rasakan adalah down, banget. Bukan cuma berpikiran apakah gue bisa menghadapi para dosen penguji itu, tapi juga seberapa besar mental yang harus gue siapkan sebelum memasuki ruangan "angker" itu. Dari pandangan gue, masuk ke ruangan itu seperti sedang memasuki ruang audisi Indonesian Idol, berhadapan dengan juri (dosen penguji), lalu kita menunjukkan kebolehan kita dalam bernyanyi (menjelaskan isi skripsi dan juga teori-teori mata kuliah yang kita pelajari selama ini), terkadang sampai lebih dari 1 jam di sana, lalu jika selesai kita akan menerima secarik kertas yang menyatakan bahwa skripsi kita lulus, lulus dengan perbaikan, atau bahkan tidak lulus. Terlebih dalam setiap ujian skripsi, para mahasiswa yang akan ujian membawa makanan dan minuman untuk disajikan pada dosen penguji, dan juga para petugas tata usaha dan administrasi kampus (should i do that too?), yang lama-lama malah mirip orang memberikan sesajen bagi para arwah-arwah tempatnya meminta bantuan agar lulus kuliah, wisuda, dan mendapatkan gelar. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak modal pikiran, uang, dan mental yang harus dipersiapkan untuk menghadapi satu ujian skripsi. Kalau gak lulus? Ngulang lagi? Modal yang diperlukan pun membengkak.

"Masih mau cuek dengan kuliahmu?"
Hari ini, kata-kata itu kembali muncul dalam benak gue setelah sekian lama gue mencoba untuk mengendalikan pikiran gue agar enggak stres dari sekian banyak tuntutan yang ditujukan pada gue. Pada akhirnya, kalaupun gue terus mendapatkan tuntutan, gue enggak boleh berlama-lama down dan menjadi semakin galau. Karena pada dasarnya, segala bentuk sentilan; kritikan; saran; protes keras; singgungan; dagelan; parodi; gosip; gunjingan; bertujuan baik, yaitu untuk membuat diri kita menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, bukannya untuk membuat kita menjadi down bahkan galau tanpa akhir. Hanya saja banyak orang lebih menekankan sisi negatif yang ada dari hal-hal tersebut, tanpa melihat sisi lainnya yang bersifat membangun. Karena itu, mungkin kita perlu melihat sisi lain kehidupan yang tersembunyi dari pandangan kita. Dan mungkin karena itu pula, gue perlu membuka mata ketiga dan keempat gue agar gue bisa melihat kehidupan gue dengan sudut pandang yang lebih baik.

Friday, January 20, 2012

Menggalau di KFC

Good Morning everyone.

Oke, mungkin gue gak biasanya beri salam pada kalian seperti ini. Dan mungkin kalian udah lama penasaran kenapa gue jarang nulis lagi di blog. Kenapa eh kenapa?

So I'll try to be true to you. I've been taken hiatus for too long, 9 months to be exact. It has been a long time, and made me wonder how busy I did in the last 9 months, while in the mean time I still could took a nap for every single day except Friday. I can't even understand how my body worked, well, until now.

Akhir-akhir ini gue makin sering tidur kepagian. Entah jam 2, entah jam 3, entah jam 4, kadang-kadang gue malah tidur jam 7. Gue mungkin insomnia, atau mungkin juga gue sedang dalam proses perubahan menjadi makhluk nocturnal.

Apa itu nocturnal?

Nocturnal merupakan sifat dimana sesuatu bekerja lebih banyak di waktu malam dan beristirahat di waktu siang. Kebalikan dari sistem tubuh manusia pada umumnya. Mungkin sifat ini muncul dalam diri gue karena gue makin banyak melakukan interaksi di waktu malam. Entah sama diri gue, atau sama orang lain. Tapi seringnya gue melakukan hal-hal yang enggak sempat gue lakukan di siang hari pada malam hari. Terlebih karena gue tinggal sama sepupu bongsor dengan massa 80 kg, yang menguasai rumah itu saat siang hari, dimana setiap langkahnya dapat menggetarkan lahan seluas 20 meter persegi, dan membuat semua semut yang sedang bekerja keluar dari sarangnya dan serempak berteriak dengan tangan mengadah ke langit, "Oh tuhan, jangan Engkau percepat kedatangan kiamat di muka bumi ini. Kami masih banyak kerjaan!".

Contoh, gue mencuci baju di malem hari dan menjemurnya di luar, berharap jam 10 pagi udah kering. Gue mempersiapkan nasi buat makan esok hari di waktu malam, gue buang sampah di waktu malam, gue begadang ngerjain tugas di waktu malam, dan yang paling terbaru : menggalau di malam hari.

Eit, jangan terkejut. Gue juga manusia. Gue juga bisa menggalau. Tapi gak seperti para anak baru kegedean yang menggalau sambil nangis-nangis di kamar, mukul-mukul bantal, dan nyoret-nyoret kertas sambil dengerin lagu-lagu galau dari Anak Terakhir (bukan yang tertukar?), Membunuh Aku di Dalam (emang ada apa di dalam? ada pistol gitu?), dll., sambil meratap, "Kenapa kamu lebih milih dia? Kenapa???", dan membiarkan matanya sembab karena kelamaan nangis. Baru paginya ditanyain sama orang tuanya, "Kamu kenapa nak? Abis berantem sama jin penghuni kamar kamu ya? Nanti bapak panggilin pak Ustadz, biar jinnya enggak ganggu kamu lagi. Kamu tenang aja ya nak, semua akan baik-baik saja".
Kalau udah di situasi itu, elo mau jawab apa?

Gue menggalau lebih pada bagaimana gue harus mengambil sikap ke depannya. Gue juga selalu ingin waktu untuk sendirian dan merenungkan apa yang telah terjadi selama ini. Enggak heran gue selalu keliatan sendirian, terlebih kalau kalian pernah melihat gue dan berinteraksi dengan gue seharian penuh. Mungkin kalian yang udah jadi teman facebook gue selalu liat status-status gue itu membingungkan, banyak teka-teki, dan enggak penting banget buat dikomentarin, itulah yang kalian pikirkan tentang gue, dan akan terefleksikan dari diri gue dengan jelas pada kalian sendiri. Oke? Semua orang juga butuh perhatian, begitu juga gue. Kalian enggak perhatiin gue, gue juga akan balas enggak akan perhatiin kalian. No hard feelings, karma berlaku sob. You'll get what you've done.

Mungkin kalian mengira gue selalu menggalau di kamar kan? Hahaha, salah besar sob. Elit dikit lah. Gue akhir-akhir ini lebih sering menggalau di KFC.

Buset, KFC!

Dan pada jam-jam segini, waktu yang enggak terlalu ramai karena semua orang tidur, meski enggak semua orang. Kenapa gue milih KFC? Ada beberapa alasan.

Pertama, KFC buka 24 jam, pertama di Pontianak. Tertinggal banget ya Pontianak? Ya begitulah, susahnya negara kepulauan.

Kedua, sambil gue makan, gue bisa memperhatikan orang-orang yang mengunjungi KFC. Dari waiter sampai pengunjungnya, dari cowok sampai cewek, dari yang normal sampai yang maho, dari yang fashionista sampai yang cuek bebek dengan penampilannya.
Gue pernah melihat ada dua orang cowok memesan makanan di depan gue. Yang satunya pake celana pendek selutut, yang satunya pake hotpants katun putih dengan motif hearts warna pink. Begitu si cowok bercelana pendek selutut yang gue rasa sebagai "the man"-nya itu meminta dia nunggu di mobil Honda Jazz silver yang diparkir di depan, cowok berhotpants yang gue rasa adalah "the woman" melenggang keluar sambil melahap sundae yang udah diterimanya dan bersandar di kap depan. Gue cuma bisa melihat sambil geleng-geleng kepala.
Pagi ini, gue ngeliat ada cewek merokok, dua cewek bergaya tomboy, dan pasangan maho, lagi. Buset, memang kehidupan seperti ini hanya bisa terlihat di waktu malam. Dimana kenyataan hidup lebih terlihat jelas. And that's what I like about the night.

Dan yang ketiga, KFC punya wi-fi. Tapi tadi gue coba koneksi malah minta kode pengaman. Lah, serius gak sih pasang label "INTERNET CORNER" di depan?

Back to kegalauan gue. Sambil mengetik, gue mencoba membongkar ingatan-ingatan gue selama 9 bulan ini. Dari yang sweet sampai yang bitter, dari yang menyenangkan sampai yang menyedihkan, dll.

Yang menyenangkan, gue ngerayain satu tahun hubungan gue sama pacar gue, dan berlanjut meski sempat hitungannya mentok dan dilanjutin lagi Februari 2011, dan membuat perhitungan anniversary bergeser jauh ke November. But that's not the matter. As long as we could be together, time will not divide and fade the chances to share love between us. Eaaaaaaaaaaaaaaaa #kesambet
Gue malah berencana untuk datang lagi ke Jakarta tahun ini, kali ini sendirian, dengan target lebih gede : ketemu camer. Semoga bisa terlaksana dan acara ketemu camernya sukses. Amin. I really missed her, a LOT.

Yang menyedihkan, gue kehilangan nenek gue yang meninggal dunia bulan Oktober lalu. Well, enggak terlalu menyedihkan buat gue, karena semua orang pasti akan pergi, entah sementara atau permanen. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menyingkapi itu semua. Lagipula gue udah kebanyakan ngeluarin air mata gue untuk hal-hal yang percuma seperti menangisi perpisahan gue dengan mantan-mantan gue. Dua tahun lalu mungkin semua itu berarti. Tapi lama kelamaan gue mulai menegaskan pikiran gue, "Buat apa elo nangisin orang-orang yang enggak pernah mencintai elo dari hati? Percuma, bego! Mereka enggak akan ngeliat lagi ke elo. Yang ada mereka akan berpikiran kalau mereka dulu 'pernah memacari cowok childish yang takut dipukuli, lemah sama cewek dan jadi target empuk biar dompetnya (gue) tipis, sementara dompet gue (si mantan) utuh hingga akhir bulan', dan harus dilupakan biar bisa nyari cowok layaknya pangeran yang tampan, kaya, macho, setia, dll. NGIMPI!!! Kalau elo terus kayak gitu, sama aja elo melemahkan hati elo, gak berani moving on, lama kelamaan jiwa elo membusuk bersama dengan bertambahnya usia elo. Elo mau kayak orang enggak punya jiwa? Hidupnya kosong tanpa tujuan? SO LUPAIN DUA ORANG GAK BERGUNA ITU DAN MAJU TERUS!"

Pelajaran yang dapat gue ambil dari konflik hati gue adalah, elo enggak akan bisa jadi orang yang lebih baik tanpa ada sesuatu di masa lalu elo, tapi jangan biarkan masa lalu terlalu lama hidup, elo harus maju bersama waktu, karena itulah hakikat manusia yang sebenarnya.

Gue kok jadi kelamaan kesambet gini ya? Hadeh...

Gue masih gak mengerti perbedaan yang kecil bisa mempengaruhi sebuah konstitusi fundamental. Tapi setelah melakukan suatu kesalahan tertentu, gue mengerti kalau homogenitas udah terlalu lama berkembang di Indonesia. Perbedaan kecil seperti lemparan batu oleh Nabi Daud As. dapat membuat Jalut goyah dan tumbang. Itu sebabnya gue sekarang jarang online di facebook gue, karena gue gak mau asal bunyi lagi terjadi, yang bisa membuat konstitusi segede Amerika bisa kacau gara-gara kata-kata gue. Udah cukup tanda-tanda bagi gue untuk segera menghilang tanpa jejak setelah gue lulus kuliah, itu lebih baik daripada gue tetap muncul di mata mereka dan membuat kekacauan yang membuat gue dikucilkan. Gue lebih suka meng-exile diri gue sendiri dari hadapan orang lain daripada gue di-exile oleh massa. Mungkin kalian merasa aneh kan? Tapi itulah gue. Bukan elo.

At the end of this morning's posting, gue harus segera menentukan langkah gue. Gue harus bisa lebih aktif. Gue harus bisa fokus pada masa depan gue. Dan yang terakhir, gue harus tegas pada diri gue sendiri. Dan semuanya harus gue lakukan mulai sekarang. Terima kasih atas perhatian kalian semua atas postingan pagi ini. Gue akan kembali menjalani hidup gue yang penuh dengan kata "BY MYSELF". Semoga postingan ini bisa mengingatkan kembali apa tujuan gue.

Oke, selamat pagi semuanya dan selamat tidur...
Buat KFC, thanks paket super besar-nya dan ngebolehin gue nambah tagihan listrik.

Saturday, October 9, 2010

"Ana Uhibbuka Fillah"

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Oke, mungkin ada beberapa dari kalian yang bilang dalam hati, "Tumben lo pake judul bahasa Arab. Lagi mendadak alim abis puasa?", dan gue akan jawab, "Gue gak bisa jawab langsung. Biarlah Dia di atas sana menilai gue, apakah gue udah layak disebut alim atau gak."

Mantep.

Lalu gue lanjut, "Dan gak, gue gak main film 'Mendadak Alim'. Gue aja kalau gak acting udah kayak orang gila yang gaje (gak jelas, kalau masih ada yang belum tau), apalagi disuruh acting oleh sutradara-sutradara terkenal kayak Deddy Mizwar, Rudi Soejarwo, Hanung Bramantyo, Riri Riza, Mira Lesmana, dll, kayaknya gue cuma bakal jadi piguran yang cuma sekedar 'numpang lewat' dan gak dibayar karena jadi piguran orang gila."

Asem...

Ehm, kita lanjut lagi. Kenapa gue sedikit nyinggung soal film di Indonesia seperti di atas? Karena gue ingin mencoba menggali sedikit ke dalam isi dan hikmah sebuah film. Nah lo! Gimana dengan lo semua? Kalau lo lagi nonton film diambil hikmahnya atau cuma ikut nonton aja? Tanyakan lagi pada diri lo sendiri. Dan sementara lo semua lagi sibuk nanya dalam hati, gue akan lanjut.
Para sineas bilang, film itu sebuah seni. Terus para seniman juga sering bilang, seni itu adalah sebuah cerminan dari diri kita. Lalu muncul pertanyaan lagi : jadi film bokep itu juga cerminan hidup para bintangnya? Bingung kan? Jangankan lo, gue juga bingung...

Kita lewati pertanyaan itu. Sekarang gue coba renungi lagi satu hal. Film merupakan sebuah seni yang menjadi cerminan diri manusia. Dengan mengeksplorasi sebuah fiksi, kita bisa membuat sebuah cerita yang banyak ditunggu untuk ditonton oleh orang lain, yang membuat penonton selalu terkesan setiap kali menontonnya, dan seperti tak ingin waktu berlalu karena sebel nunggu episode berikutnya. Dengan mengkreasikan imajinasi, kita bisa membuat setiap adegan menjadi hidup dengan adanya konflik, kebohongan, kepalsuan, sandiwara, dan para pemeran antagonis mempunyai bibir yang tinggi sebelah gara-gara selalu bikin senyum sinis. Film memiliki unsur dramatis yang membuat penonton seperti tersihir seakan-akan masuk dan terlibat dalam setiap scene dan membuat penonton sering kesal dan marah.
Ya tho? Ibu-ibu penggila sinetron Indonesia?

Contoh, Dinda Kanya Dewi, pemeran Mischa dalam Heksalogi (maaf, terlalu dipaksakan) Cinta Fitri yang setiap hari ditayangkan di saluran matahari, selalu dikerumuni para ibu-ibu, bukan untuk minta tanda tangan, tapi pengen ngeroyok gara-gara udah gak tahan dengan tokoh antagonis yang diperankannya. Padahal, keseharian pasangan Derby Romero ini gak seperti di dalam film itu. Seperti itulah sihir film, film dapat menciptakan stereotipe para tokoh dari apa yang dimainkannya. Jika dia bermain sebagai protagonis, dia pasti dianggap orang baik. Jika dia bermain sebagai antagonis, pasti dianggap orang jahat.

Oke, kita balik ke topik awal.
Kenapa gue pake judul kayak di atas? Gue juga gak tau sebabnya. Tapi yang pasti, gue pengen menghubungkan judul postingan ini dengan apa yang gue bahas tadi.

Film berisi sandiwara, tapi sadar gak, hidup ternyata adalah sandiwara terbesar yang pernah Allah susun. Bahkan skenarionya lebih rumit lagi karena pelakunya ada banyak sekali. Lebih banyak dari pelaku-pelaku sinetron murahan yang sering ditayangkan di TV Indonesia. Namun agak berbeda dengan pelaku sinetron, kita hanya memiliki satu kali take tanpa cut. Setiap apa yang kita lakukan akan selalu membekas dalam hati lawan main kita. Allah sebagai sutradara sekaligus produser tidak akan pernah mengatakan 'cut!' setiap kali kita melakukan kesalahan, tapi membiarkan kita terus ber-acting sejauh yang kita bisa sampai pada saat kita dipanggil dan "dipecat" dari sandiwara terbesar yang pernah ada.

Mengenai judul postingan ini, gue akan sedikit mengulas artinya.
Mungkin ada yang udah tau, gak apa. Gue tetap akan maju.
"Ana uhibbuka fillah" itu artinya "Aku mencintaimu kerena Allah". Secara harfiah artinya begitu. Ya udah, bagi yang bingung mau ngomong "I love U" pake bahasa lain, boleh pake kata tadi. Tapi ingat! Suatu saat kata itu akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadi jangan pernah main-main dengan kata itu, karena bisa aja ada korban seperti dalam cerita yang gue dapat langsung dari teman gue.

Temen gue pernah pacaran dengan seorang cewek. Masa pacarannya cukup pendek, gak sampai sebulan. Namun katanya, ada 3 hal yang paling buat dia susah dilupakan sekaligus susah buat dia mengerti.

Satu, kata yang diucapkannya saat mulai pdkt.
Dua, kata yang diucapkannya setelah menerima.
Tiga, kata yang diucapkannya saat berpisah.

Semuanya adalah kata yang sama : "Ana uhibbuka fillah".

Dia selalu berpikir, 'apakah kata itu tidak berarti lagi hingga dia bisa berkata seperti itu dengan bebasnya?' Hingga akhirnya dia mulai merasa dikhianati. 'Cinta' yang ia rasakan hanya sesaat. Bukan cinta yang sebenarnya. Dia pun bertanya dengan si cewek soal itu. Apa jawabannya?

"Kenapa aku mutusin kamu, karena aku masih menghargai kamu dan ingin melindungi harga dirimu..."

Begitukah seharusnya melindungi harga diri seseorang? Dengan cara mengatakan "I love U" seenaknya, dan setelah selesai urusan "berpacaran", ia bisa kembali "mengadu kasih" dengan orang yang sebenarnya ia cintai lebih dari orang yang sangat ingin mencoba untuk menjalin hubungan abadi? Apakah itu hal yang wajar, dengan menggunakan orang lain untuk kembali mendapatkan cinta orang yang dulu pernah dicintainya? Apakah cinta "sementara" yang dulu pernah ia berikan itu cuma sandiwara dengan maksud membuat orang yang dulu pernah dicintainya cemburu? Begitukah???

Ingatlah siapa yang lebih dulu mengucapkan "Ana uhibbuka fillah". Suatu saat kata-kata itu akan menjadi bukti apakah yang kau ucapkan itu sesuai dengan apa yang kau pikirkan dan rencanakan. Bukan bermaksud untuk menyudutkan seseorang, tapi setidaknya ini untuk menyadarkan kita yang telah lama dibohongi dengan adanya cinta cinta dan cinta yang hanya keluar dari mulut dan bukan dari hati. Mulut memang mudah mengucapkan, tapi pernahkah kata itu keluar dari hati? Belum tentu kita mampu.

Dan lagi, kata "Ana uhibbuka fillah" gak akan pernah tepat apabila dipakai untuk menunjukkan "cinta"nya anak muda yang lagi getol-getolnya berpacaran. Kata itu hanya diterima Allah bila kita sudah tiba pada masanya untuk mengucapkan kata itu, yang sangat dinantikan oleh pendamping kita, yang insya Allah akan selalu setia menemani kita hingga maut menjelang, yaitu ikatan hidup yang paling valid tanpa expired date. Pernikahan.

Oke, stop. Atas permintaan temen gue, gue akan hentikan bahasan tadi.

Jadi apa hubungannya? Hubungannya adalah "Pantaskah kita bersandiwara dalam hidup?" Jawabannya sangat conditional. Mengingat kita sendiri saat ini sedang melakukan sandiwara kehidupan. Tapi ada perbedaan dengan sandiwara yang dilakukan di pentas seni, kita tidak memiliki "kehidupan kedua". Yang ada hanyalah satu kehidupan yang mutlak harus kita jalani. Tidak akan ada pengulangan. Yang ada hanya moving forward. Kesimpulannya, sebisa mungkin hindarilah sandiwara yang berlebihan, yang mungkin akan mengakibatkan saudara-saudari kita terluka karena skenario yang kita buat. Bersungguh-sungguh dalam berbuat, agar tidak ada lagi kata sesal dalam diri kita. Jalani kehidupan apa adanya. Lakukan apa yang kita bisa, jangan memaksa. Karena mungkin itulah hal yang terbaik untuk hidup kita dan juga orang-orang di sekitar kita.

Dan lagi, maaf jika postingan kali ini menyinggung perasaan beberapa pihak yang membacanya. Tapi jika tidak begitu, maka posting ini tidak akan dibaca sedikitpun. Benar kan?

Sebagai penutup dan kesimpulan dari apa yang gue bla-bla-bla di atas adalah, hanya untuk mengingatkan, manusia tidak memiliki kekuasaan untuk menilai sesuatu. Kita hanya bisa melihat, mengamati, dan memperhatikan sesuatu. Dari hasilnya itu, akan muncul sebuah kesimpulan akan suatu hal. Dan itu bukan penilaian. Penilaian akhir hanya ada di tangan-Nya. Bukan dari apa yang kita rasakan. Karena kita sama sekali tidak berada dalam sudut pandang orang itu. Pasrahkan saja semuanya hanya kepada-Nya Yang Maha Kuasa. Karena manusia hanya bisa "live their life to the fullest". Melakukan hal yang terbaik dalam hidup kita.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
*turun mimbar*

Thursday, October 7, 2010

Atas Nama Ilmu Pengetahuan

Setiap kali gue denger cerita-cerita orang-orang hebat yang dalam usia muda menjuarai kejuaraan sains alias Olimpiade Sains, gue selalu merinding dan mulai merasa minder.

Contohnya beberapa waktu lalu, temen gue cerita soal keberhasilan siswa SMA gue dulu dengan gurunya, kalau si R juara Olimpiade tiga kali berturut-turut, si B bisa ngalahin si R dalam Olimpiade meskipun si B baru kelas X dan si R udah kelas XII, si T berpotensi juara berturut-turut tapi ngelepasin bidangnya dan kuliah di tempat yang lain dari yang biasa, si A dapat beasiswa luar negeri karena juara, dan lain-lain, gue cuma bisa diam sambil neguk soda yang ada di tangan gue. Gue akui, gue emang minder. Sangat minder.

Mau tau apa yang gue pikirin saat itu? Yang gue pikirin sebenarnya cukup simpel : "Gimana ya, biar bisa kayak orang-orang itu? Pada makan apa ya? Ada kiat belajar khusus gak ya? Otaknya berapa cc sih? Jangan-jangan ada hard drive 128 GB berprosesor Intel Atom i8 di dalam otaknya..."

Oke, gue akui, gue emang lebay. Tapi setidaknya, kelebayan gue bisa membuat gue berpikir lebih mendetail tentang suatu hal. Jadi jangan heran kalau tiap hari uban gue bertambah satu helai.

Faktanya, memfokuskan pikiran dalam menghadapi suatu masalah lah yang menjadi solusinya. Sama seperti mahasiswa yang menerapkan SKS alias Sistem Kebut Semalam. Kita hanya akan belajar makul yang akan diujikan dengan habis-habisan. Apapun yang terjadi, apakah kita ketiduran, mata jadi loyo, bawaannya ngantuk, belajar sampai begadang, dan lain-lain, tidak akan kita hiraukan. Karena yang penting adalah kita bisa menguasai materi yang diujikan besok hanya dalam satu malam. Kalau dicocokkan pada masalah sebelumnya, hubungannya ada pada bagaimana persiapan itu dilakukan. Butuh waktu yang lama mempersiapkan diri menghadapi kompetisi sekaliber Olimpiade Sains. Gak cuma jasmani, mental juga perlu disiapin. Kalau gak, yang ada setelah gagal, adalah stres berkepanjangan.

Ngomong-ngomong soal Olimpiade Sains, percaya gak percaya, waktu SMA dulu gue pernah diusulkan buat ikut dalam Olimpiade Kimia. Hanya saja, the tricky part that made me unqualified was, waktu itu gue udah kelas XI. Dengan kata lain, penjurusan udah dimulai dan gue, mungkin udah pada bisa nebak, ada di kelas IPS. Tapi si guru Fisika jadul itu nolak usulan anak IPA. Berikut cuplikan percakapan apa yang terjadi pada suatu Selasa di bulan November 2006 yang gue denger dari penuturan langsung anak-anak IPA itu :

Guru Fisika Jadul (GFJ) : Oke, Fisika sudah semua. Terus, lanjut ke Kimia. Siapa yang bisa wakilin buat Kimia?
Anak-anak IPA (IPA) : E, Pak!!!
GFJ : Oke, E udah dipilih. Terus yang satunya lagi siapa?
IPA : Aulia, Pak!!!
GFJ : Hah? Gak bisa itu. Dia kan IPS, gak boleh ngewakilin IPA.

Setelah denger berita itu, gue cuma bisa ketawa kecil. Gue gak marah karena diusulkan karena gue tau mereka pernah melihat gue ikut les Kimia mereka. Mereka tau kemampuan gue di bidang itu. Gak masalah kalau gue gak ikut Olimpiade. Gue juga emang gak suka dengan persaingan. Hanya aja yang gue permasalahkan dari hal ini adalah : "Pantaskah Ilmu Dimonopoli?"

Apa cuma anak IPA yang harus tau masalah kesehatan dan yang lain gak? Apa cuma anak IPA yang boleh praktek di Lab dan yang lain gak boleh? Apa cuma anak IPA yang bisa ngerti soal anatomi dan yang lain gak bisa? Dan kalau mau diusut, liat cabang Olimpiade SMA, berapa banyak cabang IPS? HANYA EKONOMI. Gak lebih. Bukan maksud untuk membanggakan fakultas gue berada sekarang, tapi semestinya kita prihatin terhadap kenyataan ini.

IPA hanya boleh pelajari IPA. IPS hanya boleh pelajari IPS. Gak boleh nyeberang. Begitukah seharusnya? Jadi siapa yang akan nanggung kalau nanti lulusan IPA gak suka bersosialisasi dengan sekelilingnya sampai gak tau apa yang terjadi, atau lulusan IPS gak tau apa dampak Monosodium glutamat, Klorofluoro karbon, Tetraethyl lead, Kalium sianida, dan lain-lain bagi kesehatan? Kita? Bukan. Salahkan sistem pendidikan yang cenderung separatis dengan penjurusan. Kita hanya bisa mengikuti sistem saja, tanpa tau maksud sistem. Kita udah lama dijajah dan dibodohi oleh paradigma pendidikan seperti ini.

Jadi apa maksud penjurusan? Gak lain hanya untuk memfokuskan diri dalam menuntut pendidikan. Tapi fokus saja gak cukup. Kita perlu ilmu pengetahuan di sekeliling kita sebagai pelengkap hidup. Contoh saja, sebagai umat beragama, kita perlu belajar ilmu agama, tanpa memperhatikan kita dari jurusan mana. Seperti itulah bagaimana kita membutuhkan ilmu pengetahuan.

Balik lagi ke ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan memiliki peranan penting dalam kehidupan. Ilmu pengetahuan dapat mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak. Ilmu pengetahuan dapat menjadi pelajaran terbaik bagi kita dalam memahami hidup, di luar textbook dan apa yang disampaikan dosen/guru. Ilmu pengetahuan memiliki cakupan luas. Jadi pahamilah lebih dulu ilmu pengetahuan sebelum memulai pendidikan.

Pantaskah ilmu pengetahuan dimonopoli? Kalau gue disuruh jawab, jawaban gue adalah gak. Ilmu pengetahuan itu gak ada yang spesial. Ilmu pengetahuan itu umum. Ilmu pengetahuan itu gak boleh dikhususkan untuk suatu kalangan saja. Karena pada akhirnya ilmu yang kita miliki itu akan diajarkan kembali kepada penerus kita. Kamus juga gak akan bisa bohong. Liat science secara intisarinya. Apa artinya? Ilmu pengetahuan. Dan menurut gue, orang yang melawan ilmu pengetahuan itu sama dengan orang yang melawan waktu, sia-sia.

Contoh, kata cewek, cowok itu gak akan bisa ngerti sedikitpun tentang cewek. Pendapat yang sangat dangkal dan desperate banget buat gue. Boro-boro mau ngelindungin rahasia tentang cewek, cewek aja ada juga yang gak tau apa yang 'seharusnya' udah jadi bidang penguasaannya. Contoh lagi, ada temen gue, cewek, gak tau soal make up, cewek gak bisa masak, cewek gak bisa menjahit, atau lainnya. Kalau masalah inner, cewek juga gak bisa menyangkal kalau rahasia cewek itu udah beredar luas. Buktinya? Tuh, pelajaran biologi, sistem reproduksi... :p

Jadi konklusinya adalah, kita harus bisa berbagi pengetahuan dengan sesama manusia. Jangan pelit! Cewek harus mau berbagi pada cowok apa yang yang mereka ketahui dan pikirin dan sebaliknya, agar bisa terhindar dari hal-hal yang tidak mereka inginkan, sama seperti anak IPA dan anak IPS saling berbagi pengetahuan. Tentang apa yang mereka pelajari dan alami, yang mungkin akan menciptakan kesinambungan terhebat dan terindah dalam hidup manusia, hingga pada akhirnya tidak ada istilah orang bodoh dan orang awam.

Atas nama ilmu pengetahuan, mungkin masa-masa seperti itu akan tercipta di Indonesia...

Dan atas nama ilmu pengetahuan, gue optimis...

"Melawan pada yang berilmu dan berpengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan"
Pramoedya Ananta Toer

Wednesday, July 21, 2010

I Start with a Post, Only for You

I don't need a mere wonderful text from you.
What I need is your confession to me, whether you still reminds me as your special one or not.
'Cause I still need you, whatever happens to me.
I believe, I believe that I could achieve more than a glorious feeling that you said 4 months ago.
And now, even though the earth separate us, I really want you to know, that this heart will be always for you.
I love you 'til the last part of me.

Happy unofficial 4 months, Sinta Mariana.

Tuesday, June 1, 2010

Renungan si Kebo

Lama banget gue gak online.
1 minggu lebih gak online bagi gue sama aja dengan tinggal di dalam penjara.
Terlebih gue baru ngalamin hal yang paling gak ingin gue dapetin.

Gue... Baru putus sama pacar gue...

Dengan begitu totalnya menjadi 3 kali.

Tapi anehnya, gak tau kenapa yang kali ini sedikit berbeda dengan 2 sebelumnya.

Mungkin karena gue belum pernah melihat pacar gue sendiri face to face, mungkin juga karena jarak yang jauh, mungkin juga karena cuma bisa komunikasi lewat hp aja, atau mungkin...

Gue udah mulai melunak...

Perbedaan yang paling mencolok mungkin adalah lamanya gue pacaran. Setelah 2 kali sebelumnya dengan "kejam" diputusin setelah berhubungan dalam waktu yang singkat. Yang pertama, 7 hari. Yang kedua, 20 hari. Dan yang kali ini 72 hari. Bukan angka yang pantas dibanggakan, memang. Karena gue udah sering liat banyak pasangan yang awet banget sampai bertahun-tahun, yang selalu bikin gue iri saat ngeliat mereka.

Tapi pikiran gue kembali ke jalur asli (gue gak mau pake kata utama) dalam hidup gue. Gue udah 19 tahun, sebentar lagi 20. Sampai sekarang gue masih belum punya tujuan hidup gue yang sebenarnya. Gak ada yang bisa gue banggain ke orang banyak. Gak ada!

Saat mulai menuju kepala 2, banyak orang menganggap hidup ini menyenangkan. Life is fun! Mereka bisa menikmati hidup, mencari pasangan yang mereka suka, bebas ngelakuin apa aja, bisa ngumpul dengan teman-teman sambil foya-foya, membuat kebisingan di jalan, konvoi-konvoi yang gak jelas, nongkrong di mall, dan masih banyak hal lainnya. Namun waktu mulai masuk kepala 2, hidup seakan banyak tekanan. Umumnya umur 20-an merupakan umur yang layak kerja. Kalau gak kerja, tentu akan dicibir orang. Dianggap pengangguran, sampah masyarakat, yang gak bakal mampu menafkahi diri sendiri hingga saat berkeluarga nanti. Kemudian kalau lagi kuliah, pengennya cepet lulus, wisuda, lalu cari kerja. Gak jarang untuk mencapai tujuan itu (baca : lulus), mereka menghalalkan segala cara. Dari nyontek waktu ujian, sampai ke yang parah, nyuap fakultas buat ngelulusin mereka. Terus? Gak mungkin mereka gak mikirin untuk berkeluarga kan? Yup, menikah mungkin adalah tujuan akhir dari dasawarsa umur 20-an.

Boleh saja kita berpikir secara praktis untuk jangka pendek kan? Seperti untuk lulus kuliah, terus mendapatkan kerja. Menurut gue, hal seperti itu udah hal yang standar banget. Baik cowok maupun cewek pasti punya target untuk masa depan. Namun, kalau untuk berpikir secara strategis, gue ragu banget kalau semua orang bisa.

Sebelum putus, pacar gue pernah bilang ke gue kalau dia salut dengan gue yang udah punya rencana buat nikah nanti, meskipun kami sama-sama tau kalau hal itu belum tentu terjadi. Terus dia bilang lagi, kebanyakan cowok seumuran gue masih nganggap cinta itu sebagai main-main aja.

Salahkah gue? Entah. Tapi mungkin hal kayak gitu yang membuat gue stres. Mungkin udah saatnya gue berhenti memikirkan hal-hal yang belum tentu pasti kayak tadi. Menikah.
Gue belum siap menikah.

Gue sadar, menikah bukan hal yang gampang.
Setelah ngeliat dan bedain perilaku pasangan yang baru nikah dengan pasangan yang udah lama nikah, gue jadi sadar kalau dalam berkeluarga, cinta bukan modal satu-satunya. Atau alasan yang paling mudah : mau nafkahin pake apa? masa makan cuma sepiring berdua? jangan-jangan satu baju juga dipake berdua???
Gue harus matengin dulu niat jasmani dan rohani buat mulai berpikir yang benar soal nikah.

Banyak banget alasan buat putus.
Gak cocok, beda agama, jarak jauh, diselingkuhin, hati yang labil, mantan ngajak balik, dapet yang lain, orang tua nimbrung, dan masih banyak lagi.
Untuk yang kali ini gue bersyukur alasan yang diberikan sangat jelas, gak seperti 2 kali sebelumnya, yang satu plin-plan, yang satunya lagi berpaling ke mantan, gue cuma jadi umpan.
Namun, ada satu hal yang masih mengganjal dalam pikiran gue.

Gue bisa ngerti kalau ortu ingin yang terbaik, melarang kita terus lanjut itu adalah salah satunya. Tapi gue masih gak begitu ngerti tentang masalah jarak.

Terlebih, posisi gue gak menguntungkan karena jauh.

"Jangan. Kalau kamu ke sana lalu diapa-apain bagaimana? Kamu itu satu-satunya harapan keluarga."
Gue juga dibilangin hal yang sama oleh nyokap.
Oke, gue tau. Kami sama-sama harapan satu-satunya keluarga kami masing-masing. Khusus gue, sepeninggal almarhum ayah dan abang gue, gue didaulat jadi penopang keluarga satu-satunya. Keluarga gue telah menaruh harapan besar di pundak gue. Karena itu gue gak bisa banyak bacot dalam pilihan. Gue tetap harus memilih sesuatu yang pasti.

Mungkin ada beberapa kesamaan dari ketiga kali kegagalan gue itu. Ada 'mas' yang berpengaruh terhadap jalan cerita. Entah kecil atau besar, gue gak tau. Karena gue gak pernah bertemu dengan para 'mas' itu.

Gue masih labil. Gue gak tau harus ngapain selain mengharapkan internet kampus jalan terus dan gak putus. Buat apa? Buat nulis pikiran gue yang gak berujung ini.

Banyak orang bilang, "Santai aja, kamu masih muda, sukses aja dulu, pasti banyak cewek yang ngejar" ke gue dengan entengnya.
Oke, itu menghilangkan masalah yang muncul karena patah hati. Tapi masalah lain datang.
"Bagaimana caranya biar bisa sukses?"

Mereka gak pernah berpikir tentang masalah selanjutnya yang tiba-tiba datang. Mereka hanya fokus untuk memecahkan masalah yang menimpa mereka saat ini. Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.

Gak jarang cinta sering dijadikan sebagai tujuan hidup.
Dan gak jarang juga melihat orang-orang yang gagal mencapai tujuan itu.
Mereka bisa stres.
Gak menutup kemungkinan bunuh diri pada akhirnya.
Seringnya mereka menjadikan cinta sebagai tuhan, yang patut disembah. Perilaku hiperbola ini sangat banyak dijumpai pada remaja. Kalau gak remaja, hal ini juga ada pada para bujang lapuk. Layakkah kita berperilaku seperti itu? Tidak. Ada banyak tujuan dalam hidup hidup yang masih bisa dicapai. Pendidikan, kesejahteraan hidup, keadilan sosial, dan lain-lain masih perlu kita pertimbangkan. Memang ada banyak masalah dalam hidup. Tapi masalah tersebut tidak boleh kita jadikan sebagai beban dan rasa takut yang berlebih. Ingatlah, dibalik kesusahan pasti ada kemudahan.

Dalam film 3 Idiots, Aamir Khan yang berperan sebagai Ranchho pernah berkata, "Kalau kamu mempunyai permasalahan hidup, jangan diambil susahnya. Santai saja, usap dada, yakinkan diri semua akan baik-baik saja dan katakan, AAL IZZ WELL, AAL IZZ WELL"

Kira-kira begitulah gambaran dari permasalahan setiap manusia, dimana rasa percaya diri sangat sedikit, bahkan sangat kurang untuk menyokong kekuatan hidup. Gak jarang kita liat berita-berita di tv tentang orang yang bunuh diri karena permasalahan yang tidak begitu besar. Seperti remaja bunuh diri karena diputusin pacarnya, atau siswi SMA yang bunuh diri setelah mengetahui dirinya tidak lulus dalam UAN. Terlihat jelas dalam pikiran mereka bahwa 'mati lebih mudah daripada menanggung malu'.

Gue sendiri pernah hampir berpikiran seperti itu. Gue merasa gue hanya bisa mencintai seseorang, tapi gak pernah layak untuk dicintai. Terkadang parahnya, gue berpikiran gue diciptakan tidak untuk dicintai. Dan ujung-ujungnya, gue lebih sering menghindar dari publik dan kenyataan.

Pikiran itu adalah salah besar. Agama sendiri sudah melarang manusia mencabut nyawanya sendiri atau nyawa orang lain. Bahkan manusia yang melakukan bunuh diri telah dijanjikan masuk neraka. Gue gak akan banyak berbicara tentang agama, karena itu diluar jangkauan blog gue. Yang pasti, cobalah untuk melihat segala permasalahan dari sisi yang sebaliknya, dan jangan terlalu sering menatap permasalahan secara straight-forward. Karena terkadang sisi lain permasalahan menyimpan sebuah kebaikan untuk kita. Semua adalah rahasia tuhan. Wallahu 'alam.

Sekarang gue dalam keadaan bebas. Umumnya kalau gue baru bebas, gue masih merasa labil. Kalau diibaratkan, gue kayak anak ayam kehilangan induk. Gue gak tau harus ngapain, gue gak tau harus kemana, terkadang melakukan hal-hal yang bodoh, kadang gak pengen ngapa-ngapain, kadang juga pengen gak melihat dunia satu hari saking labilnya.

Gue sebenarnya gak begini parahnya. Sejak kecil, gue udah terbiasa untuk menyendiri. Gue sering melakukan apapun yang gue mampu sendirian. Daripada kumpul dengan teman-teman sambil ngomongin hal-hal yang gak jelas, gue lebih memilih menyendiri di sudut ruangan. Terkadang menatap jendela, sambil memikirkan hal-hal yang gue rasa sangat penting. Gue juga lebih suka diam sambil mendengarkan. Jadi bagi gue, sendirian bukan masalah. Tapi untuk masalah ini sangat lain. Kebebasan udah seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, gue senang bisa ngelakuin apa yang gue pengen lakuin tanpa halangan. Tapi di satu sisi, gue juga membutuhkan seseorang yang bisa mengerti apa keinginan gue dan bisa menghalangi gue kalau gue udah kelewat batas.

Jadi intinya, meskipun gue terlahir sebagai orang yang bebas, gue masih tetap membutuhkan seseorang yang mampu membatasi gue jika gue udah mulai kelewatan.

Entah siapa yang bisa. Gue gak tau. Gue hanya berharap jika memang dibalik peristiwa ini ada rencana-Nya yang lebih baik buat gue, gue akan terima dan gue jalani sepenuh hati.

Langit di bulan Juni terus mendung. Mungkin sesuai dengan hati gue sekarang. Hujan mungkin akan menetes sewaktu-waktu.

Dan mungkin, Juni memang waktu terbaik buat gue untuk merenungi semua ini...

Tapi cerita ini gak akan hilang dalam sejarah gue.

Hidup gue akan dimulai kembali... dalam kesendirian...

Wednesday, May 12, 2010

Breaking News that Really Break the News

SLASH!!!

Bukan maksudnya mau nyebut nama Slash, gitaris Guns 'n Roses itu, tapi itulah yang terjadi dalam hati gue waktu gue baca sebuah blog yang sering gue baca buat ngakak. Bukan ngakak yang gue dapet, tapi gue jadi bersimpati.
Isinya...

..thus,
I just wanna say to you:

goodbye.
It was an amazing 7 months.
Have an amazing life.
I remain as your friend.

Gue langsung dapet point-nya, si empunya blog baru aja putus dengan pacarnya.
Setelah baca, seketika gue berdo'a, 'Ya rabb, semoga gue gak cepat berpisah sama dia...' dan lain-lain.

Yang bikin gue salut adalah, dalam chaos of heart itu, si empunya blog masih bisa bilang 'I remain as your friend'. Sangat bertolak belakang dengan gue yang gak pernah mampu memaafkan orang-orang yang mutusin gue, sampai sekarang.

Intinya, gue harap hubungan gue dengan pacar gue gak akan cepat berakhir dengan tragis seperti yang pernah gue alami sebelumnya.
9 hari lagi, hubungan gue akan genap 2 bulan. Perjalanan gue dan dia masih panjang.

Ya rabb, berilah kami kekuatan...

Monday, May 10, 2010

Bahasa Indonesia Bukan Penyakit!!!

Entah kenapa semua orang di Kalbar selalu kagok kalau ngeliat orangnya sendiri ngomong pake bahasa Indonesia.
Gue gak bercanda. Semua yang gue omongin 100% benar.
Masih gak percaya? Oke, gue kasih bukti.

Kamis kemarin, gue ditelpon pacar gue. Seperti biasa, nanyain kabar gue, gue lagi apa, dan beberapa hal lain yang standar diomongin oleh pasangan yang lagi kasmaran. (ceileeee...)
Gue sendiri waktu itu lagi berada di Musholla kampus, lagi asik online. Gue di situ gak sendirian, banyak orang (kira-kira 5 orang) termasuk teman seangkatan gue, dan adek tingkat.
Mungkin udah ada beberapa dari kalian yang tau kalau gue lagi pacaran jarak jauh. Antara Pontianak dan Jakarta... *halah...* Dan seperti lazimnya orang Indonesia yang mengetahui kalau mereka tidak tinggal di satu pulau yang sama, waktu ngomong pasti menggunakan bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia.

Namun ternyata, apa yang gue lakukan, dianggap aneh oleh orang-orang di sekeliling gue saat gue ngomong. Entah karena mereka katro', atau udah teracuni bahasa Melayu yang biasanya dipake, atau cuma nganggap bahasa Indonesia itu gak penting, entahlah.

Selesai nelpon, gue disamperin Seto, temen gue peranakan Jawa-Melayu. Dia bilang...
"Au, jarang aku liat kau ngomong pake bahasa Indonesia kayak tadi. Rasanya gimana ya, aneh-janggal gitu"
*mungkin ada yang pengen tau gimana orang Kalbar ngomong pake bahasa Melayu, gue coba terjemahin nih...*
"Au, jarang aku liat kau ngomong pake bahase Indonesia kayak tadi'. Rasenye gimane ye, aneh-janggal gitu' lah..." (terasa mirip betawi? mungkin, tapi gak sepenuhnya)
Gue, yang udah biasa bicara formal dengan dosen-dosen, cuma bilang "Biasa aja kaleeee..."
Seto garuk-garuk kepala.

Hal yang-dibilang-aneh ini gak selesai gitu aja. Selepas sholat Ashar, pacar gue nelpon lagi. Kali ini orang-orang yang ada di Musholla ada lebih dari belasan. Ada rapat gitu deh. Lagi asiknya ngomong, gue malah diganggu.
Anjrit...

Gue diganggu terus sampai akhirnya jam 5, obral obrol habis. Akhirnya, gue diomelin pacar gue gara-gara lebih ngurus mereka daripada dia sendiri. Maaf ya... -_-

"Napa sih kamu hari ini nyebelin banget???"
"Nyebelin napa?"
"Kamu lebih perhatian ke teman kamu, padahal aku kan nelpon buat kamu"
"Iya, maaf, mereka yang maksa..."
"Lain kali kalau mereka ganggu lagi, anggap mereka gak suka kamu nelpon pake bahasa Indonesia, gak usah ditanggepin"
"Iya..."

Dan hal itu buat gue sadar.
Tahun ini tingkat ketidaklulusan siswa ada pada bahasa Indonesia, bukannya bahasa Inggris. Membuka mata gue dengan hal-hal yang ada sekarang, di saat manusia Indonesia malah menganggap mudah, menganggap enteng, menganggap remeh bahasa sendiri.
Dan buat temen-temen gue yang kagok ngeliat gue pake bahasa Indonesia, sadarlah kalau lo semua gak akan tinggal di tempat yang sama seumur hidup.
Bahasa Indonesia ada untuk mempersatukan, bukan untuk membuat jarak.

Memprihatinkan, sekaligus memalukan.

Semoga gue gak termasuk salah satu diantara orang-orang seperti itu.
Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn...

Tuesday, March 30, 2010

Anak Kos, Malangnya Dirimu...

Rabu, tanggal 17 Maret kemarin gue berhasil pindah dari rumah lama gue.

Sebagai catatan, rumah lama gue ada di alamat : Jalan Komodor Yos Sudarso Gang Nangka no. 9
Rumah lama gue jauh dari kampus. Sekali pergi ke kampus memakan waktu 20 menit, belum lagi hitung waktu macet dan lampu tricolor (baca : lampu lalu lintas) yang selalu buat semua orang sebal. Di Pontianak mungkin udah ada traffic timer di beberapa persimpangan yang ada traffic lamp-nya. Tapi tetap saja menyebalkan, malah makin menyebalkan setelah mengetahui fakta berikut...

Ambil contoh, di Perempatan A. Yani - K.H. Wahid Hasyim - Gusti Sulung Lelanang - Kota Baru.

Kalau kita keluar dari A. Yani, kita akan bertemu dengan traffic timer itu. Hanya saja masalahnya adalah, stopping timer secara default adalah 72 detik alias 1 menit 12 detik!!!

Siapa yang mau tetap nyalain mesin motornya dalam waktu segitu???

Itu masih belum seberapa. Di perempatan Gajah Mada - H.O.S. Cokroaminoto - jalan menuju Khatulistiwa Plaza (gue lupa namanya) - jalan menuju Matahari Mall (gue lupa namanya, lagi), traffic timer-nya bahkan lebih parah... 100 detik!!!
Ada lagi, di perempatan Johar - K.H. Wahid Hasyim - Karimata, stopping timer yang default adalah 120 detik!!!

Masya Allah...

Stopping timer-nya segitu, tapi moving timer-nya jauh lebih menyebalkan lagi. Cuma 25 detik!!! Lebih parah, ada yang cuma 15 detik!!!

Dan setelah menjadi mahasiswa selama 3 semester lebih ini, gue jadi semakin menghargai waktu. Pelajaran yang gue dapet dari pengalaman ini adalah : Jangan menyia-nyiakan waktu buat hal-hal yang gak ada gunanya, karena pada akhirnya kalian akan diseruduk kambing gunung dan dimakan beruang.

Eh, gak denk...

Doain gue biar dapat kamera yooo, gue mau arsipkan Pontianak, dan akan gue posting di fb, biar lo semua bisa liat Pontianak itu seperti apa.

Back to my topic, sekarang gue tinggal di Sepakat 1 Blok Batara no. A5. Lebih dekat sih, tapi tetap saja ada bedanya.

Sekarang gue seolah-olah jadi anak kos, padahal tinggal di rumah keluarga sendiri.
Nyuci sendiri, makan sendiri, masak sendiri, bersihin kamar sendiri, dan lain-lain.
Malah ada peraturannya sendiri...

Beneran jadi anak kos loh!

Sekarang gue ngerti penderitaan anak kos dimana-mana. Anak kos harus bisa mandiri, melebihi umur mereka. Dengan begitu anak kos diharapkan siap kerja dimanapun mereka berada. (kok jadi mirip slogan SMK ya???)

Huhuhu... Anak kos, malangnya dirimu...

Monday, March 22, 2010

Cinta Tyrannosaurus

Sejak dulu gue punya suatu kekhawatiran yang dalam.
Gak tau juga dapet darimana, tapi yang pasti hal itu selalu menghantui gue.
Yaitu...

"Cinta itu apa sih???"

Bukannya gue masih anak kecil sih (tapi banyak yang merasa iya) tapi gue rasa hanya hal ini yang masih gak bisa gue pahami secara live and realtime (ceileeeee...).
Jujur saja, meskipun putus nyambung putus nyambung mulu, gue masih gak paham.

Malah, dari pertanyaan yang 'sederhana' itu, mulailah muncul anak pertanyaan lainnya, seperti...
"Kenapa sih cinta itu ada? Apa benar cinta itu gak harus selalu memiliki? Kenapa sih harus ada kehilangan dalam cinta? Kenapa sih manusia harus bersaing untuk dapatkan cinta?" dan lain-lain.

Pertanyaan yang terakhir kusebut tadi adalah pertanyaan yang paling menghantui gue.

-----------------------------------------------------------------------------------

Gue flashback ingatan kabur gue, kembali ke September 2009.

"Mantan gue gak suka gue dekat sama cowok lain. Kalau ketauan, dia bakalan gak segan buat bonyokin muka tuh cowok"

Dalam hati gue bilang, "God, I will die. He's my reaper you've sent to this world. Kenapa Engkau begitu kejam???"

Gue belum siap mati hanya gara-gara ketemu reaper kayak dia.

Gue cuma bisa diam sambil nganggukkan kepala gue.

Selama beberapa hari gue mikir cara efisien buat eliminasi tuh cowok edan.
Pernah gue mikir, "Apa baiknya gue umpan dia ke kantor polisi aja ya? Jadi kalau dia mau mukul gue, dia bakalan dikejar polisi dan ditangkep. Tapi gak ah, nanti gue juga ditahan sebentar buat dimintai keterangan, lalu kalau gak ada bukti pasti, gue yang dijeblosin. Gak jadi."
Ribuan cara, taktik dan strategi gue pikirin bener-bener layaknya Shikamaru.
Tapi gue mati kutu.

Dan akhirnya gue mencapai ke 1 buah konklusi sadis : PASRAH

Posisi gue gak bagus.
Gawat sekali lah...
Kalau dia datang ke Pontianak, gue yang bakalan mampus.

Satu hal yang jadi pertanyaan gue.
Udah bergelar (konotasi hormat, sekali-kali gak masalah) mantan, kenapa masih segitunya sama mantan pacarnya?
Kalau masih cinta bilang saja, jangan berlagak tegar tapi ngolok-ngolok mantanmu dengan kata 'prostitute' di belakang.
Itu udah ngebuktiin lo lebih pengecut daripada gue.

Tapi ya sudahlah.
Cuma menangin otot apa gunanya.
Apalagi kalau diracuni dengan etanol dan nikotin.
Lo udah ngurangin nyawa lo 5 tahun.

Gue bersyukur gue bukan orang yang cepat putus asa, lalu mabuk-mabukan.
Karena gue tau masih ada hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada minum miras yang ngabisin 500 ribu hanya buat 1 botol pembawa ajal.

-----------------------------------------------------------------------------------

Dari peristiwa itu, gue terus berpikir panjang.
Sampai rambut putih gue tampak, gue gak peduli.
Haruskah manusia mati hanya untuk cinta?
Apakah cuma itu tujuan hidup manusia?

Sekali lagi jujur, gue benci dengan yang namanya konflik dan masalah.
Gue malah berharap dunia ini aman-aman saja, tenteram, gak ada perang, gak ada permusuhan, gak ada masalah, semua terkendali.
Sayangnya harapan itu mungkin gak bakalan terwujud di dunia fana.

Kalau dalam cinta, gue selalu berharap prosesnya bakal mudah.
PDKT, nembak, pacaran, sampai nikah kalau bisa.
Tapi terkadang semua gak bisa berjalan sesuai rencana.
Pasti aja ada halangan dan gangguan.

Memang betul, cinta monyet hanya untuk anak-anak.
Di mana monyet-monyet itu bisa bebas mengekspresikan perasaan mereka terhadap monyet-monyet lawan jenis mereka tanpa syarat, tanpa beban, dan tanpa tujuan.
Tapi menginjak dewasa, segalanya berubah ganas.
Semua hal akan jadi beban, dan kita akan semakin primitif.
Bahkan lebih primitif daripada monyet yang 'setidaknya' masih terpelajar.

Kita gak akan berubah menjadi Brontosaurus yang herbivora.
Kita akan menjadi predator terhadap sesama.
Kita akan menjadi makhluk paling ganas di darat dari semua dinosaurus.
Benar...

Kita akan menjadi Tyrannosaurus.

Dan aku masih berpikir, kenapa Tyrannosaurus pernah muncul dan hidup di bumi... -_-
Powered By Blogger